Kamis, 12 November 2009

Aku dan Dia

Kini aku telah membuka lembaran baru, suatu berkah bagiku akan kehadiran dia. Dia selalu menjadi yang terbaik untuk ku dikala aku sedih, kesal, senyum, dan bahagia. Aku tak menuntut sepeser pun materi darinya, yang aku tuntut hanyalah curahan kasih sayang yang dia berikan. Dia mengerti apa yang ku inginkan, walau aku harus menerima kekurangan. Sungguhlah manusiawi kita hidup dengan semua kekurangan dan kelebihan masing-masing. Aku harus menyukuri itu semua walau dari TITIK NOL.

TITIK NOL...

Tuhan kini sedang menguji aku, apakah aku sabar, tabah, ikhlas menghadapi itu semua. Insya Allah, saya ikhlas dengan itu semua.

Sebagai wanita yang cinta dan sayang terhadap kekasihnya, bahkan aku rela mengurangi aktivitas lama. Setiap jam, menit, detik aku luangkan untuknya. Aku dan Dia saling berbagi waktu. Alhamdulillah semuanya lancar sampai saat ini.

Aku bersimpuh dan berdoa, Tuhan... " Jangan Engkau lepaskan hamba dari jiwanya, hamba ingin terus bersamanya, selalu berbagi kasih. Hamba selalu setia dan memberi dorongan untuknya supaya terus menjadi yang terbaik " Tuhan...dengarkan doa hamba-Mu ini.

Nafas detak jantungku selalu menyebut nama-Mu

Allah...Sang Maha Pengasih dan Penyayang

Tuhan Pemilik Semesta Alam

Amin Ya Robbal Alamien.

~Sigaraning Nyowo~

Rabu, 28 Oktober 2009

Witing Tresno Jalaran Soko Kulino

Awalnya gw gak percaya sama pepatah itu
gw udah nyepelein apa yang ada dipikiran

Ternyata hidup tak seperti apa yang gw bayangkan...


Semuanya telah terjadi...

Harus makan empedu sebelum mencicip nikmatnya gula jawa...

PASRAH, SABAR, IKHLAS, NRIMO

mau tidak mau gw HARUS jalani

Semoga Gusti Memberkati...

Rabu, 23 September 2009

Hati nurani kala malam

Malam kemarin aku bertemu denganmu

Menjumpai kamu yang kusayangi

Ingin rasanya ku menumpahkan isi hati nurani

Kulihat dengan jelas saat kamu menatap aku

Entah cinta atau nafsu sesaat tapi ku tak peduli

Sorotan matamu padaku membuat hatiku tergetar

Seolah perhatianmu itu memberi arti


Lututku terasa lemas tak berdaya

Merobohkan untuk jatuh ke bumi

Sekejap itu juga ku berlutut dihadapanmu


Sambil ku berkata padamu

Aku ini wanita

Percayalah padaku

Bukalah hatimu untukku

Berikan aku secercah kasih sayang untukku


Aku mengharapkan darimu

Ikhlaskah dirimu

Wahai kekasihku

Selasa, 28 Juli 2009

dua puluh enam juli. kosong sembilan

kembali ku menemukan cinta
serasa pandangan pertama
dikota jakarta...


hanya untukmu Palgunadi
dari Dewi Anggraini...

Sabtu, 25 Juli 2009

Dilema aku bukanlah KAMU

Begitulah rasa trauma, sejak itu ku tak mudah jatuh cinta, serasa hidupku dibuat menderita. Mau tidak mau untuk sementara ini aku instropeksi dan tidak ingin kecewa untuk kesekian kalinya. Untuk seseorang yang berada jauh disana, maafkan aku karena menolak dirimu menjadi tambatan hati. Batinku tak bisa untuk mentolerir dengan keyakinan kita yang berbeda. Aku yang keras kepala tetap memilih “A” bukan “B” atau lainnya. Sedangkan dirimu, sejak awal kita memulai berbagi prinsip, aku sudah menilai tak ada yang beres dengan kemauanmu. Jadi janganlah kau bermain api dengan ku, apalagi soal keyakinan. Banyak sekali ocehan-ocehan mu yang posesif, membuat aku jadi sensitive. Seolah kamu itu merasa paling punya segalanya, persetan dengan itu semua. Lebih baik ku tutup mulut, tidak usah mengumbar kepunyaan. Apa pun yang kamu punya belum seberapa dan semua itu belum tentu abadi bahkan dibawa mati. Aku tak silau akan dirimu. Sekali lagi aku adalah aku, bukan KAMU.


Tambah kekecewaanku, aku sudah legowo dengan keadaan, meyakinkan kamu betapa pentingnya arti sebuah keikhlasan, kamu membuat sulut api lagi untukku. Buat apa kamu masih mengejar diriku, tak ada yang pantas dari wanita seperti aku. Kata kata yang mempermainkan dari ocehan keparatmu itu membuat ku jadi marah besar, tapi semuanya ku acuhkan, tak ada guna meladeni picisanmu itu. Aku ingin sendiri lepas dari cengkeraman mu, aku sedang mencari jati diri, instropeksi akan masa lalu, dan mencari tambatan hati yang baru….


Semoga Gusti memberkati...

Jumat, 24 Juli 2009

Mengisolasikan diri

Hujan deras..

Saya menyendiri..

Saat itu sasaranku adalah kamar..


Jari jemari ku rentangkan…dibalik jendela yg penuh embun, jari telunjuk kanan ku mengukir nama mu. Bagiku sungguh indah ditambah nyanyian rindu mengalun lembut. Ku tak berdaya, setitik air mata menetesi pipi yang kotor, oh ternyata aku lelah…


Handphone berdering alunan biola, tak ku angkat, sudah tahu!!!jadi malas langkah kaki untuk meraihnya. Tubuhku terus bersandar di tembok jendela, sungguh tak berdaya, mengapa ku merenung itu semua…aku yakin suatu saat dirimu akan menjauh, entah..mungkin tak mungkin menjadi nyata…menerima apa adanya…

Senin, 20 Juli 2009

I+US

Siang bolong ini, saya berorasi
Mengeluarkan konspirasi yang bukan merek kontrasepsi
Jadi janganlah anda salah persepsi

Sosok wanita seperti saya bosan dicekoki teori tiap hari
Saya butuh revolusi
Semua teori bagaikan nasi basi
Tak bergizi

Teori menjadikan diriku tak mulus
Yang kubutuhkan saat ini adalah fulus

Dengan segepok fulus
Mungkin hidup saya jadi lebih terurus

Mulailah diriku terbius
Lagi-lagi dengan yang namanya fulus